Cari Blog Ini

Minggu, 28 Maret 2021

Pengalaman Hirschsprung Anak 5 Tahun

"Akhtar kenapa nangis?" Di tanganku, sendok isi obat siap diminum. Anakku mimbik-mimbik bahkan sebelum mencicip.
"Aku gak mau minum obat terus," jawabnya dengan muka memelas.
"Iya, Nak, pasti gak nyaman ya tiap beberapa jam menenggak obat. Bismillahirrahmanirrahim, semangat ya. Minta kesembuhan kepada-Nya, kamu bisa."
"Nak, tau gak, kenapa harus minum obat?"
"Kenapa," tanyanya. 
"Setelah usus Akhtar terluka, dia berjuang untuk perang sama bakteri yang bikin sakit. Nah, obat ini bisa bikin bakteri kabur, ususnya cepat sembuh. Tentu saja, kesembuhan milik Allah, obat ini perantaranya. Allah suka kita berusaha dengan minum obat ini. Jangan lupa berdoa ya."
Dia mengangguk, masyaAllah.
Tapi gak semulus itu juga prosesnya. Awal makan obat, aku masih dengan seramnya mengancam. 
"Kamu katanya pengen sembuh, ayo minum obatnya!" teriakku beberapa hari yang lalu. Ngeri, mukaku seseram monster sepertinya. Akhtar aja tambah nangis saat melihat mukaku. Huhu, sedih.
Sulit, sulit banget kalau sudah refleks menanggapi kerewelan anak. Pengalaman masa lalu terpatri dan menjadi kebiasaan.
Sekarang, aku tau kekuranganku, aku bisa mengubahnya dengan mencari tau bagaimana menyikapinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan baca isi blogku. Aku tunggu komentar dari teman-teman ya!