Cari Blog Ini

Minggu, 28 Maret 2021

Saat Kita Berbuat Salah

Kesalahan kita di masa lalu memang terkadang memalukan. Menyakitkan. Kita pasti berpikir, kenapa kita dulu seperti itu?Kenapa kita memilih jalan itu? 

Dan akhirnya, semua itu adalah wajar. Normal. Bahwa kita adalah manusia. Hambanya yang lemah. Hanya Dia yang Maha Besar. 

Ketidaktahuan, kurang ilmu, belum kompeten adalah wajar.

Hanya, terkadang tuntutan orang lain yang menyebabkan kita harus sempurna. Menghakimi dahulu sebelum tahu apa alasan di baliknya.

Begitu juga kita terhadap kesalahan orang lain. Orang lain bersikap seperti itu, wajar. Karena dia tidak tahu.

Dan kembali ke kita, karena kita sudah tahu, maka memahami bahwa ada hal-hal yang terkadang tidak sesuai harapan itu hal yang biasa bisa jadi salah satu cara.

Cara untuk mulai memaafkan, tahap demi tahap. Tak harus langsung memaafkan, tapi menerima bahwa hal-hal itu pernah terjadi pada diri kita. Bahwa hal itu bisa terjadi juga pada orang lain. Bahwa hal itu wajar adanya.

Yang membedakan adalah reaksi kita setelah mengambil hikmahnya. Apakah akan kita masukkan terus di hati dan menggenggam terus rasa sakitnya?

Ataukah akan melepasnya sedikit demi sedikit agar lukanya tak terus menyayat dan akhirnya ringan melangkah ke lembaran baru. 

Keresahan "Yogyakarta" (REFERENDUM)

Referendum,,,
sebenarnya apa yang dimaksud dengan kata-kata itu?
mungkin teman2 yang memang berada di ahli tata negara, kewarganegaraan, etc pasti sudah tau apa arti itu..
Untuk tambahan pengetahuan,
Sebuah referendum (dari bahasa Latin) atau jajak pendapat dalam istilah bahasa Indonesia merupakan pemungutan suara untuk mengambil sebuah keputusan (politik). Pada sebuah referendum, biasanya orang-orang yang memiliki hak pilih dimintai pendapatnya. Hasil referendum bisa dianggap mengikat atau tidak mengikat. Jika mengikat, maka para anggota kaum eksekutif wajib menjalankan hasil jajak pendapat tersebut. Di beberapa negara tertentu seperti Belanda, referendum tidaklah harus mengikat.(Diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Referendum)

Dan

Gagal Panen yang Berkah


"Ikannya Bapak yang di kolam mati semua."
Satu pesan masuk pagi itu. Pesan yang membuat satu orang kecewa, tapi ternyata membawa berkah bagi kami di perantauan.

Sudah sebulan aku tak bisa mencicipi masakan ibu. Walau hanya 4 jam perjalanan untuk sampai ke rumah Ibu,  Tapi Kali ini berbeda, virus memaksa kami di rumah saja. Kami biasanya bisa mudik 1 bulan atau 2 bulan sekali.

Kebun sebelah rumah sudah Bapak sulap dengan tambahan peternakan hewan. Salah satunya ikan mujair.

Pak, besok kalau aku mudik, aku mau beli ikannya buat digoreng ya. Begitu pesanku. Beberapa bulan lalu, Bapak mengambil keputusan yang mengejutkan. Pensiun setahun sebelum masanya. Berkebun dan beternak menjadi pilihan masa tuanya.

Tiap pagi, grup WA kami selalu diisi video dari Bapak. Bagaikan youtuber profesional, Bapak bercerita kegiatannya. Cucu-cucunya yang memang ada di luar kota sangat menantikan video ini.

Maka, pesan satu kalimat sebelum Lebaran ini membuatku membayangkan betapa kecewanya beliau.

-Bersambung-

Pengalaman Hirschsprung Anak 5 Tahun

"Akhtar kenapa nangis?" Di tanganku, sendok isi obat siap diminum. Anakku mimbik-mimbik bahkan sebelum mencicip.
"Aku gak mau minum obat terus," jawabnya dengan muka memelas.
"Iya, Nak, pasti gak nyaman ya tiap beberapa jam menenggak obat. Bismillahirrahmanirrahim, semangat ya. Minta kesembuhan kepada-Nya, kamu bisa."
"Nak, tau gak, kenapa harus minum obat?"
"Kenapa," tanyanya. 
"Setelah usus Akhtar terluka, dia berjuang untuk perang sama bakteri yang bikin sakit. Nah, obat ini bisa bikin bakteri kabur, ususnya cepat sembuh. Tentu saja, kesembuhan milik Allah, obat ini perantaranya. Allah suka kita berusaha dengan minum obat ini. Jangan lupa berdoa ya."
Dia mengangguk, masyaAllah.
Tapi gak semulus itu juga prosesnya. Awal makan obat, aku masih dengan seramnya mengancam. 
"Kamu katanya pengen sembuh, ayo minum obatnya!" teriakku beberapa hari yang lalu. Ngeri, mukaku seseram monster sepertinya. Akhtar aja tambah nangis saat melihat mukaku. Huhu, sedih.
Sulit, sulit banget kalau sudah refleks menanggapi kerewelan anak. Pengalaman masa lalu terpatri dan menjadi kebiasaan.
Sekarang, aku tau kekuranganku, aku bisa mengubahnya dengan mencari tau bagaimana menyikapinya.