Cari Blog Ini

Kamis, 07 Januari 2021

Bagi Mona Ratuliu dan Para Orang Tua, Anakku "Nakal" Karena Ini ...

“Kamu ini nakal banget, sih! Mainannya diberantakin kayak gitu.”


“Heh, jangan usil. Itu kacanya nanti pecah!”

"Adek, jangan rewel. Bunda lagi banyak kerjaan!”

Pernahkah bunda atau ayah bertutur kata seperti itu? Atau pernah mendengar kalimat seperti itu di kehidupan nyata para calon bunda dan ayah?

Dalam buku Ayah Edy Punya Cerita, Ayah Edy menyatakan bahwa efek dari kalimat-kalimat negatif sangat dahsyat bagi masa depan seorang anak. Kalimat-kalimat negatif itu akan membawa pesan dan masuk di alam bawah sadarnya sampai akhir hayat, kecuali diganti dengan terapi. Bisa dibayangkan, saat anak mendapatkan pesan sampai ia tua, beban “cap jelek” kita dibawa ke mana-mana. Anak yang sudah membawa “cap jelek” dari orang tua, dia akan merasa tak disayangi.

Seperti salah satu anak, sebut saja dia E. E merasa dirinya benar-benar bodoh saat orang tuanya mencapnya bodoh di bidang matematika. Saat belajar pun, E selalu dibentak karena tidak paham dengan hal yang ibunya ajarkan. Lalu, E merasa ibunya tak sayang dengannya. Perilaku ini terlihat setelah ia dewasa, ia lebih nyaman ngobrol seharian dengan teman dekatnya. Memasuki era millennial ini, anak akan mulai terhanyut dengan input dari mana pun yang ia dapatkan. Jika orang tua tak dapat menjadi “teman” yang dekat dengan anaknya, maka anak akan lebih dekat dengan yang lain, yang kita pun tidak tahu dampak apa yang akan mengancamnya nanti.

Bagi aktris Mona Ratuliu dalam bukunya “Parenthink”, dia menyatakan sangat menyesal dengan kalimat negatif yang dia tuturkan untuk anak pertamanya, Mima. Saat itu, ia “kurang” dalam menimba ilmu menjadi orang tua. Ilmu parenting saat itu memang kurang update. Usia 21 tahun saat menikah, membuat ibu tiga anak ini terombang-ambing antara keluarga dan masa dewasa mudanya. Bentakan, makian, bahkan kekerasan fisik sering ia lakukan. Setelah ia mulai membuka wawasan tentang pengasuhan anak dengan hati, dan sekarang hubungannya dengan Mima layaknya hubungan teman dekat. Dua anaknya yang lain pun sudah happy karena sang Ibu dapat mencintai mereka dengan tulus.

Menurut Ustadz Harry Santosa dalam Kuliah WhatsApp Home Education, fitrah anak ada 4empat, meliputi fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, dan fitrah perkembangan. Merujuk pada tema tulisan ini, fitrah belajar dan fitrah perkembangan yang akan ditonjolkan untuk menguak masalah kalimat negatif. Fitrah dalam KBBI berarti sifat asal atau kesucian. Bayi yang lahir sudah membawa fitrah dan memungkinkan akan terus dibawanya sampai mati jika ditangani dengan baik.

Fitrah belajar dibawa bayi sejak dalam kandungan, jika ia tidak suka belajar saat besar, maka fitrahnya menyimpang. Penelitian Annie Murphy Paul dalam buku What We Learn before We’re Born menyimpulkan bahwa bayi belajar sejak dalam kandungan dengan merekam dan merespon dalam berbagai hal yang dilakukan Ibunya. Misalnya saat sang Ibu terbiasa membaca Alquran, sang bayi akan cepat belajar mendengarkan dan mudah menghapalkan ayat-ayat suci tersebut.

Lain lagi fitrah perkembangan, firah ini menekankan pada perkembangan hidup manusia dan bagaimana ketepatan pendidikan yang harus diberikan sesuai usia anak. Perkembangan fisik dan psikologis pun bertahap sesuai usianya. Misalnya, anak diajari solat melalui penghayatan akidah berupa cinta kepada Allah SWT sebelum usia tujuh tahun. Tidak dibenarkan memaksa anak solat sebelum memasuki usia tujuh tahun.

Nah, dari fitrah-fitrah tersebut kita dapat mengerti jika kita salah sangka terhadap anak. Anak sesuai usianya akan matang perkembangannya sesuai stimulasi orang tua. Jika anak usia dua tahun sudah diajarkan solat dengan paksaan, dia tidak akan enjoy menghayati bagaimana mencintai Allah dengan tulus. Maka, dampak yang ditimbulkan anak adalah anak akan berontak jika disuruh solat saat memasuki usia tujuh tahun. Nah, di sinilah kerap kali orang tua mencap anaknya enggak nurut, nakal, susah dibilangin, dan sebagainya. Padahal sikap itu, secara tak sadar kita yang memasukkannnya setiap hari ke otak anak. Kalimat-kalimat negatif dan cap-cap jelek kepada anaklah yang membuat anak terlihat “nakal”.

Dalam fitrah belajar, anak terkadang hanya meniru kita. Orang tua merupakan teladan bagi anak-anaknya. Bagaimana anak akan berkata halus dan sopan jika orang tua malah senang membentak anak? Bagaimana anak akan bersikap baik jika orang tua malah memukul anak? Sampai sini, kebayang ya maksudnya?

Jadi, bukanlah salah anak membangkang. Bukan juga salah dia terlihat “nakal”. Semua perilaku mereka hanya sebagian penyimpangan fitrah dari tanggapan kita, orangtuanya. Semoga semua orang tua secara sadar menanyakan dirinya sendiri, “Sudahkah saya meminta maaf atas apa yang saya lakukan terhadap anak?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan baca isi blogku. Aku tunggu komentar dari teman-teman ya!